• Sabtu, 18 September 2021

Gubernur BI Perry:Lima Agenda Prioritas Kerja Sama Kebanksentralan Pada Presidensi G20 Indonesia

- Rabu, 15 September 2021 | 10:45 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Keterangan Pers Bersama mengenai Presidensi Indonesia di G20 Tahun 2022.(Sumber: Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden)
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Keterangan Pers Bersama mengenai Presidensi Indonesia di G20 Tahun 2022.(Sumber: Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden)

JAKARTA,GE--Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pada Presidensi Indonesia di G20 Tahun 2022, terdapat lima agenda prioritas di jalur keuangan atau financial track yang terkait dengan kerja sama bank sentral.

“Ada tujuh agenda prioritas di dalam jalur keuangan, lima di antaranya bank sentral itu bekerja sama,” ujar Perry, dalam Keterangan Pers Bersama mengenai Presidensi Indonesia di G20 Tahun 2022, Selasa (14/09/2021) malam, secara virtual.

Agenda pertama, adalah kebijakan untuk mendukung pemulihan ekonomi.

Gubernur BI memaparkan, ekonomi global telah mulai membaik namun belum seimbang. Di saat negara-negara maju sebagian besar sudah mulai pulih, negara-negara berkembang masih harus mendorong pertumbuhan ekonomi serta memerlukan kebijakan-kebijakan stimulus moneter, fiskal, maupun sektor keuangan.

“Oleh karena itu, koordinasi ini perlu kita lakukan untuk diperjuangkan di dalam G20 agar pemulihan ekonomi global bisa lebih seimbang dan tidak menimbulkan suatu yang kita sebut spillover effect atau dampak rambatan terhadap negara-negara di negara berkembang,” ujarnya.

Gubernur BI menambahkan, negara-negara maju juga sudah merencanakan untuk mengurangi pelonggaran-pelonggaran kebijakan di sektor keuangan yang selama ini dilakukan, misalnya pelonggaran untuk pengaturan mengenai kredit maupun pembiayaan.
Di sisi lain, negara berkembang masih memerlukan hal tersebut. “Koordinasi di tingkat G20 untuk ini perlu direncanakan secara baik, diperhitungkan secara baik, dan dikomunikasikan secara baik. Well planned, well calibrated, well communicated, sehingga bisa pulih bersama untuk mendukung pemulihan ekonomi dan mengurangi atau menghilangkan dampak yang tidak diinginkan kepada negara berkembang,” tegasnya.

Kedua, upaya mengatasi dampak permanen pandemi untuk mendorong pertumbuhan yang lebih kuat. Pandemi telah menyebabkan disrupsi ekonomi global yang masif, baik dari sisi penawaran maupun sisi permintaan serta meninggalkan scarring di perekonomian dalam jangka panjang.

Gubernur BI menyampaikan diperlukan transformasi di sektor keuangan untuk dapat tumbuh lebih produktif, efisien, dan mendukung pertumbuhan yang lebih kuat. Perlu adanya upaya untuk mengatasi scarring effect akibat pandemi COVID-19, baik di sektor riil maupun di sektor keuangan.

“Jadi tidak hanya untuk pembiayaan dunia usaha di jangka pendek tapi juga jangka panjang. Instrumen-instrumen yang lebih banyak dan juga mekanisme-mekanisme pasar yang bisa mendukung produktivitas dan efisiensi ekonomi dari sektor keuangan,” jelas Perry.

Halaman:

Editor: Ferry Ardiansyah

Tags

Terkini

Karena Konten Ini, Hersubeno Arief dilaporkan ke Polisi

Selasa, 14 September 2021 | 16:02 WIB
X