• Senin, 29 November 2021

Aleg Puteri :Tidak Cukup Peraturan OJK, Perlu UU untuk Atur Fintech

- Kamis, 4 November 2021 | 19:31 WIB
Anggota Komisi XI DPR RI Puteri Komarudin
Anggota Komisi XI DPR RI Puteri Komarudin

GELIAT EKONOMI,JAKARTA -- Anggota Komisi XI DPR RI Puteri Komarudin menilai perlu adanya dasar hukum yang kuat dalam mengatur produk dan jasa keuangan yang ditawarkan financial technology (fintech) atau Teknologi Finansial (Tekfin). Dasar hukum yang dimaksud Puteri adalah berupa undang-undang (UU), dimana kedudukannya lebih tinggi daripada Peraturan OJK.

Menurut Anggota legislatif (Aleg) nomor 295 DPR,dengan adanya UU ini untuk menjamin kepastian hukum akan aktivitas fintech di Indonesia dan memperkuat mekanisme pengawasan yang ada,” jelas Puteri Komarudin dikutip dari laman media sosialnya, Kamis (4/11/2021).

Lebih lanjut dikatakan srikandi partai berlambang pohon beringin, UU ini nantinya diharapkan tidak hanya mengatur aktivitas penyelenggara dalam memberikan produk dan jasa keuangan. Tetapi juga perlu mengatur teknologi informasi yang digunakan, status fintech yang bisa beroperasi, produk dan jasa yang ditawarkan, hubungan pemberi dan penerima pinjaman, termasuk menjamin perlindungan bagi pengguna layanan, seperti atas data pribadi, maupun bunga ataupun biaya yang wajar.

Baca Juga: Satgas Waspada Investasi Tutup 116 , Berantas Pinjol Ilegal

Ditambahkan  politisi Fraksi Partai Golkar DPR ini selain itu, UU tersebut juga perlu mendukung adanya aturan mengenai sistem early warning untuk meningkatkan pengawasan atas kinerja pinjol dalam memberikan pinjaman maupun mengukur kemampuan nasabah untuk membayar kembali pinjaman. “Misalnya, melalui suatu pusat data fintech lending yang kini juga tengah dikembangkan OJK,” tambah Puteri.

Puteri menjelaskan RUU terkait pengaturan fintech di Indonesia tersebut telah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2019-2024 sebagai usulan dari DPR dengan nama RUU Teknologi Finansial (Tekfin) atau RUU Teknologi Keuangan. Seiring dengan tengah berjalannya proses pembahasan RUU Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP), Puteri menilai RUU Tekfin ini perlu dipercepat penyusunannya.

“Termasuk, agar perlu diharmonisasikan pula isinya dengan RUU PDP. Hal itu agar tidak tumpang tindih dan memberikan kepastian dan kejelasan hukum dalam mengatur praktik fintech,” harap Puteri wakil rakyat daerah pemilihan (dapil) Jabar VII.**

Editor: Ferry Ardiansyah

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Refocusing Anggaran Berdampak Pada Program Mitra Kerja

Selasa, 9 November 2021 | 21:42 WIB

DPRD Jabar Pelajari Perda Dana Cadangan Ke Jawa Tengah

Selasa, 2 November 2021 | 20:04 WIB
X