Usai HUT Ciamis ke-384, Yayasan Bakti Anak Negeri Pertanyakan Peran yang Diabaikan

Dewan pembina YBAN brigjen TNI purn Rubiono prawiro saat berkunjung ke dewan pendiri YBAN di lapas ciamis

CIAMIS,GELIATEKONOMI – Di balik meriahnya gelaran Harmoni Tanpa Batas yang menjadi bagian dari perayaan HUT Ciamis ke-384, muncul dugaan adanya

“penumpang gelap” yang memanfaatkan panggung acara untuk kepentingan tertentu. Dugaan itu disampaikan Pembina Yayasan Bakti Anak Negeri, Brigjen TNI (Purn) Rubiono Prawiro, yang mempertanyakan minimnya apresiasi terhadap yayasan sebagai pihak pendukung utama kegiatan.

Acara yang merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Ciamis, Polres Ciamis, Lapas Kelas IIB Ciamis, dan Yayasan Bakti Anak Negeri itu menghadirkan sejumlah penampilan seni, termasuk musisi Charly Van Houten (VHT).

Menurut Rubiono, Yayasan Bakti Anak Negeri yang menjadi pihak pendukung utama kegiatan tersebut justru tidak mendapatkan apresiasi yang layak selama acara berlangsung. Ia menyoroti tidak adanya penyebutan nama yayasan oleh pihak event organizer maupun oleh artis yang tampil di panggung.

“Saya menyayangkan jika benar terjadi ketidakprofesionalan dalam pelaksanaan acara. Yayasan Bakti Anak Negeri yang menjadi sponsor dan pendukung utama kegiatan justru tidak disebutkan sama sekali. Bahkan saat penampilan Charly VHT, tidak ada ucapan terima kasih kepada pihak yang mengundang dan mendukung kegiatan tersebut,” ujar Rubiono.

Ia juga mempertanyakan mengapa dalam penampilan tersebut justru muncul pembahasan mengenai Kepala Biro Ekonomi Setda Provinsi Jawa Barat, Budi Kurnia, yang menurutnya tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan pembinaan musik di Lapas Ciamis.

“Yang menjadi pertanyaan, mengapa perhatian justru lebih banyak tertuju kepada pihak lain. Padahal dukungan terhadap Pojok Musik Lapas Ciamis berasal dari Yayasan Bakti Anak Negeri,” katanya.

Rubiono menegaskan bahwa sejak berdiri pada 2014, Yayasan Bakti Anak Negeri menjalankan berbagai program sosial dan pembinaan tanpa menggunakan dana APBD maupun APBN. Seluruh pendanaan berasal dari kontribusi para pendiri yayasan, termasuk dari royalti karya lagu dan karya tulis.

Atas dasar itu, pihak yayasan memandang perlu adanya penjelasan dari pihak terkait, termasuk Budi Kurnia maupun manajemen Charly VHT, mengenai berbagai hal yang berkembang pasca-acara tersebut.

“Kami berharap ada klarifikasi agar tidak muncul berbagai spekulasi di masyarakat. Kami hanya ingin mengetahui secara jelas duduk persoalannya,” ujar Rubiono.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Bakti Anak Negeri, Ir. Yadi Mulyadi, mengaku sependapat dengan pandangan Rubiono. Ia menilai kontribusi yayasan dalam mendukung kegiatan pembinaan musik di Lapas Ciamis seharusnya mendapat pengakuan yang proporsional.

“Kami memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan pembinaan musik di Lapas Ciamis. Namun sangat disayangkan jika kontribusi tersebut tidak pernah disampaikan kepada publik. Yang kami inginkan adalah apresiasi yang wajar terhadap seluruh pihak yang terlibat,” kata Yadi.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan yang didukung yayasan tidak semestinya dimanfaatkan sebagai ajang kepentingan politik maupun pencitraan pihak tertentu.

“Kami berharap kegiatan sosial dan pembinaan seperti ini tetap fokus pada tujuan utamanya, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan warga binaan, bukan menjadi ruang untuk kepentingan lain,” tegasnya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak Budi Kurnia maupun manajemen Charly VHT terkait berbagai pernyataan yang disampaikan oleh pihak Yayasan Bakti Anak Negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *